Sabtu, 2 Mei 2009. Dunia persilatan betawi khususnya Komunitas silat Rawa Belong mempunyai hajat besar. Menyelenggarakan silaturahmi Silat Betawi dengan tuan rumah perguruan silat cingkrik Rawa Belong.

pagelaran itu juga dihadiri oleh puluhan perguruan silat betawi yang tersebar diseluruh wilayah Jabodetabek. perhelatan itu juga dihadiri tidak kurang dari seribu pengunjung yang datang untuk menyaksikan atraksi silat betawi.

Dalam sambutannya sesepuh Silat Betawi Rawa Belong, Babe Nur Ali Akbar yang biasa dipanggil dengan Bang Nunung menyampaikan beberapa poin yang intinya adalah bagaimana memajukan budaya Indonesia khususnya Budaya Betawi agar dapat berkembang dengan budaya / seni bela diri dari luar. Beliau menyampaikan bahwa selama ini Silat betawi belum di garap dengan serius baik oleh anggota komunitas Silat itu sendiri ataupun oleh pemerintah. Beliau menyoroti bagaimana ilmu beladiri dari luar negeri bisa berkembang di Indonesia sedangkan Silat sebagai budaya bangsa bahkan ditinggalkan, tidak lain dikarenakan tidak adanya profesionalisme dalam pengembangan budaya tersebut.

Sambutan yang lain disampaikan oleh Asisten Walikota Jakbar, kemudian ketua panitia yang berharap kegiatan ini tidak hanya bersifat temporer, tetapi ini menjadi langkah awal bagi pengembangan budaya Silat Betawi dimasa yang akan datang.

setelah kata – kata sambutan kemudian acara disusul dengan berbagai atraksi yang dilakukan oleh beberapa perguruan silat betawi dengan berbagai aliran. silat betawi terkenal dengan gerakan – gerakannyang begitu dinamis dan atraktif. jika diperhatikan dengan seksama maka beberapa aliran silat betawi memiliki akar yang hampir mirip. Mengandalkan kecepatan dan efektifitas gerakan, berbeda dengan gerakan silat seperti merpati putih,perisai diri atau lainnya yang terlihat lebih lamban.

Diawali dengan atraksi dari para pesilat muda yang tampil begitu dinamis dan mendapat sambutan hangat dari para penonton, lalu kemudian disusul dengan penampilan para sesepuh. Perbedaan gerakan antara kaum muda dan para sesepuh adalah pada kecepatan dan power. namun tampak para sesepuh begitu serius menampilkan gerakan yang terlihat begitu matang dan lebih halus gerakannya.

Sayang memang jika silat betawi ini jika sampai tidak ada penerusnya, karena melihat atraksi yang ditampilkan begitu luar biasa, bahkan bisa dibilang mampu menandingi ilmu – ilmu beladiri dari luar negeri. Selama ini ilmu silat betawi tetap bisa bertahan karena adanya tradisi Palang pintu yang menarik sebagian generasi muda untuk belajar ilmu beladiri asli Indonesia ini, namun ilmu beladiri betawi ini belum mampu untuk menjadi ajang berprestasi diluar kegiatan tersebut. permasalahannya kembali kepada profesionalitas dan dukungan dari pihak yang terkait terhadap ilmu beladiri ini.

Menyaksikan pagelaran silat betawi semalam maka saya mendapatkan kesan bahwa kedepan ilmu beladiri asli Jakarta ini dapat sejajar dengan ilmu beladiri dunia lainnya asalkan digarap dengan sungguh – sungguh. Kemudian sesama komunitas silat saling mendukung dan merapihkan organisasi maka tidak mustahil kelak silat betawi akan mampu menjadi ikon Indonesia di manca negara.

akhirnya hajatan silat betawi berakhir pada pukul 24:00, dan para hadirin merasa terpuaskan kehausannya terhadap seni beladiri Betawi ini. mudah – mudahan semua pihak lebih peduli terhadap pengembangannya dimasa yang akan datang.

Leave a Reply