Lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya.

Itulah pribahasa yang mengena sekali dengan peristiwa yang saya alami hari Minggu tanggal 2 Maret kemarin.

Hari Sabtu saya ditelepon Didot, adik saya yang bungsu Didot itu panggilan sayangnya nama panjangnya Hadi Wijaya, dia adik saya yang paling bungsu.

“Kak besok saya mau lamaran, tolong disiapkan, aku mau melamar anak gadis orang Medan, kita kerumah kakaknya di Bekasi !”.

oh… waktunya begitu singkat.

Ini adalah pengalaman ketiga saya untuk melamarkan anak gadis, sebelumnya saya sudah melamarkan untuk adik saya Nopik nama Adhika Novariadi, ke Cilegon, lalu adik sepupu Heri ke Surabaya. kemudian seorang sahabat saya di Jakarta. Selama ini proses melamar yang saya lakukan lancar – lancar saja, karena langsung bertemu dengan orang tua si Gadis.

Tapi untuk adik saya ini saya tidak langsung bertemu dengan orang tuanya tetapi dengan kakak iparnya. namanya Bang Anwar, marganya Nasution. si gadis sendiri marganya Siregar.

Seperti yang sudah – sudah saya biasanya langsung kepokok pembicaraan, mungkin tabiat anak muda yang maunya langsung saja. eh … ternyata mereka kakak – kakak sigadis tidak bisa memutuskan kami harus menunggu orang tuanya sendiri yang memutuskan. Akhirnya acara kemarin hanya silaturrahmi biasa. Dari situ saya tahu sedikit tentang adat istiadat melamar, dan pernikahan orang Mandailing asal keluarga si Gadis.

benarlah lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya.

kami akhirnya harus kembali lagi menemui orang tua si gadis, dimana beliaulah yang akan menentukan segala sesuatunya.

One Response to “Lain Padang Lain Ilalang, Lain Lubuk Lain Ikannya”

  1. Iim Rusyamsi Says:

    Halo Pak Feisal,

    Apa kbr? Sukses terus yah pak…
    Terima kasih sudah mengunjungi blog saya

    Kontak2 saya yah… :)


Leave a Reply