Kisah Didi Surdi

Januari 29, 2008

Didi adalah seorang ayah dengan dua orang anak, dia berasal dari daerah Kuningan Jawa Barat. Saya mengenalnya karena sering ikut pengajian di Masjid Al Barokah, daerah Guji Baru, Duri Kepa, Jakarta Barat.

Awalnya dia seorang penjual burger keliling, yang sering mangkal di sebuah sekolah kristen di daerah taman sari, Jakarta Barat.  Sudah kurang lebih tujuh tahun dia menjalani profesi itu, hingga dia sangat piawai meracik burgernya dan menghitung keuntungan yang dia terima. kalau sedang liburan sekolah biasanya dia juga libur jualan, dan kalau Ramadhan tiba, dia dengan istrinya biasanya membuat makanan untuk berbuka puasa.

Setiap selesai pengajian biasanya kami sharing tentang kehidupan masing – masing, begitu juga Didi, dia menceritakan bagaimana usaha dia, sudah tujuh tahun berjualan burger dengan gerobak hasilnya begitu – begitu saja. Lalu saya kasih saran sama dia gimana kalau dia itu buka cabang saya kasih contoh eperti Edam, atau burger yang lain yang banyak bertebaran.

Sebelum lebaran kemarin dia cerita kalau dia mau buka ayam bakar, dia punya resep yang dahsyat. Dia cari pangkalan di daerah Kebon Jeruk sampai ke Tambora. Setelah cerita dia mau buka ayam bakar itu, lama  juga gak ketemu, soalnya dianya sering tidak hadir di pengajian, selesai lebaran saya dapat kabar kalau pangkalan Ayam bakarnya sudah buka didaerah Tambora, karena bukanya sore sampai malam akhirnya dia tidak bisa datang ke pengajian.

Dua hari yang lalu dia datang ke kios Foto Copy saya, dia mau minta dibuatkan surat kuasa, mau balik nama motornya, karena masih pakai nama orang lain, dia bilang motornya mau dijadikan jaminan ke BMT, biar dapat modal buat negembangin ayam bakarnya.

Kemudian dia cerita, kalau dia sekarang sudah gak jualan burger lagi, dia sekarang konsentrasi ngembangin ayam bakarnya. Dia cerita kalau dia sekarang sudah punya 5 pangkalan ayam bakar didaerah Kalianyar sampai jembatan dua Tambora, dia bilang kalau dia selalu teringat perkataan saya buat buka cabang, buka cabang, hehehe saya sendiri belu bisa buka cabang.

Dia mengatakan awalnya dia jualan ayam bakar dengan modal grobak seken, yang dia beli seharga 75.000, resep ayam bakar dia buat sendiri dengan istri, resep dibuat dari coba – coba karena senang makan ayam bakar, jadi dari rasa dia coba buat sudah dirasa pas baru dia berani jual kekonsumen.

awalnya dia belum mangkal, dia bawa gerobaknya dari daerah duri kepa ke daerah jembatan 2 dengan jalan kaki, terus cari – cari tempat pangkalan. akhirnya dia dapat pangkalan, pangkalan pertama dia dapat dengan harga 300.000, minta izin dengan RT/ RW setempat. sistemnya dia beli bukan sewa.

Teringat saran saya untuk buka cabang, akhirnya dia buat lagi gerobak, terus cari pangkalan baru. gerobak dia buat harganya 1,5 juta, pangkalan dia dapat harganya ada yang 500 ribu sampai 1 juta. Untuk pekerja tadinya dia coba ajak teman – teman di tempat dia tinggal tapi pada gak berminat, akhirnya dia kontak saudara – saudaranya di kampung mengajak mereka untuk jualan, sistem penggajian karyawan dengan cara bagi hasil 50 – 50.Karyawanya dicarikan kontrakan dengan sistem patungan dia sendiri jadinya cuma patungan Rp. 50.000.
Tidak terasa sudah jalan empat bulanan, sekarang dia sudah punya 5 pangkalan, setiap pangkalan setiap harinya rata – rata habis 10 ekor ayam, di potong jadi 14 potong, belum lagi jeroan, kepala, dan kulit rata – rata 5 kilo. kalau malam minggu jadi dua kali lipat. harga jual perpotong 6.000 tanpa nasi.untuk Nasi dia kerjasama dengan warteg terdekat.

Dia cerita kalau satu pangkalannya sudah pernah ditawar orang 25 juta, padahal dia dulu beli cuma 1 juta, tapi gak dilepas, karena setelah dia hitung uang segitu bisa dia dapat dalam jangka waktu 10 bulan, dari satu tempat itu saja. Ada lagi yang mau kerjasama kasih uang 15 juta terus minta tiga gerobak dan minta sharing 50 persen dari penjualan tapi ditolak, dia beranggapan orang gak kerja apa – apa kok mau dapet gede.

Sekarang Didi sudah tidak dagang burger keliling lagi, dan karena sudah punya anak buah, dia sudah bisa datang kepengajian lagi. Saya bilang ke dia kenapa gak coba bikin merek terus di franchise kan kayak orang – orang, dia bilang belum masuk dalam pikiran dia.

mudah – mudahan  cerita ini bisa memberi inspirasi.

5 Responses to “Kisah Didi Surdi”

  1. Febby Says:

    Cerita yang menarik Pak. Selamat!! Betul sekali, dengan hanya berbagi informasi saja, sebenarnya kita sudah bisa membantu orang lain merubah nasibnya. Welcome at TDA :)

    Salam,

    Febby R.

  2. Ramli Says:

    Pengalaman yang sangat menarik, inspiring!
    Sharing yang sangat bermanfaat buat kita semua, saya yakin beberapa waktu kedepan pak Didi akan menjadi seorang pengusaha ayam bakar yang lebih sukses lagi!

    Tapi ngomong-ngomong ayam bakar jadi pengen makan nih :)

    Salam hangat,
    Ramli

  3. ahmad feisal Says:

    iya Bu Febby & pak Ramli, ternyata disekitar kita banyak sekali orang – orang yang ulet, gak cengeng hanya butuh di perhatikan dan dibimbing, biar tambah maju. saya akan coba men share cerita teman – teman saya yang sederhana tapi tegar. selamat menikmati

  4. zidni Says:

    Inspiring pak :)

  5. Den....q Says:

    Wah.. terNyata tetAngga Saya.. seDang menUju ke Jalan kesuksesan… Trima Kasih Ats sharing cerItanya Pak..
    Jadi the new Inspirasi deh.. :)


Leave a Reply